Author : Saya XDGenre : Romance/Tragedy/Friendship/Hurt
NOTE ! DONT LIKE DONT READ =___=
Hahaii ini adalah sequel dari ACUTE :D hepi riding~ ^^
=====================
A love episode that ended in tragedy.
A past where she destroyed those precious to her.
What remained is her injured body and wounded heart.
Now after the warmth has dissipated,
if even our wishes were to become lies,
"Please don't go." as your voice reverberates,
I will gradually forget all.
…..
…..
Dimana ini?, batin seorang gadis berambut hijau gelap yang terbaring tidak berdaya diatas tempat tidur dorong yang kini ia merasa dikelilingi beberapa orang berbaju putih dan setelah itu, mata zamrudnya kembali tertutup. Tidak merasakan apa-apa. Tidak ingat apa-apa…
“Nona, kau bisa mendengarku?” suara itu membangunkan gadis itu yang segera mengerjapkan matanya. Buram. Lalu diikuti bau-bau obat medis disana-sini. Gadis itu memegangi kepalanya. Pusing sekali rasanya. Ada apa ini? Dia ada dimana?
“Syukurlah. Dokter! Infusnya berhasil!” teriak suara itu lagi. Suara derap langkah kaki berjalan mendekatinya.
“Nona Miku Hatsune. Bagaimana perasaanmu?” Tanya seorang dokter berwajah tampan. Miku menatap dokter tersebut. Perawakannya tinggi. Berambut blonde pirang yang terang. Miku mengira-ngira apakah dokter ini orang luar negeri? Ah tidak, tidak. Tadi dokter itu baru saja bertanya padanya dengan bahasa Jepang. Dan tanpa cela.
“Kepalaku sakit,” kata Miku. Dokter itu menjejalkan tangannya kedalam saku jas putihnya lalu tersenyum.
“Tentu saja. Itu efek obat infus. Yang menempel pada pembuluh nadimu selama 3 hari.” Kata dokter itu. Miku terbelalak. Tiga hari?! Dia… apa yang telah terjadi? 3 hari? Apa yang terjadi—
Ah. Mendadak Miku ingat semuanya. Kejadian itu. Kaito. Luka. Dan dia.
Miku menundukan kepalanya saat mengingat bagaimana sakitnya begitu dia melihat Kaito bermesraan dengan orang lain. Oh oke, dengan Luka Megurine. Dan saat itu, hatinya tertusuk-tusuk sesuatu. Sesuatu yang sakit. Keras, tajam dan melukai.
“Kau mencoba bunuh diri dengan memotong pembuluh nadi dilehermu? Kau sudah gila?” Tanya dokter itu lagi. Miku menatapnya lalu mendesis sinis,
“Kau tidak mengerti.”
“Well, memang.” Kata dokter itu. Cengirannya khas sekali membuat Miku menundukan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.
“Tapi aku cukup waras untuk tahu apa yang kau lakukan,” kata dokter itu lagi. Miku mendengus. Ia memutuskan, ia tidak menyukai dokternya ini.
“Yah. Okelah, dokter waras… Jadi kau yang memeriksaku eh? Terimakasih.” Kata Miku sedikit nyinyir. Dokter itu hanya angkat bahu. “Kau ini. Gaya bicaramu sinis sekali.” Ujar dokter itu. Miku melotot padanya. “Memang kau ini siapa, dokter waras?”
“Oh iya, dan namaku bukan ‘dokter waras’ namaku Len.” Kata dokter Len. Miku tidak menjawab. Lagipula, dia tidak bertanya siapa nama si dokter sial ini.
“Istirahat yang cukup. Aku akan mengecekmu 2 jam lagi. Ada-ada saja. Memotong pembuluh nadi leher sendiri dengan pisau dapur. ” Kata Len dan meninggalkan Miku sendirian. Miku terdiam. Kepalanya masih terasa sakit. Ia memegangi kepalanya. Menyakitkan.
Miku teringat saat itu. Dia menusuk Kaito. Lalu, apakah Kaito mati? Apakah… apakah Luka yang memboyongnya ke Rumah Sakit? Tapi… untuk apa? Bukankah dia berusaha untuk membunuh Luka juga? Dan dia sadar kalau ia membenci Luka. Dan kenapa Luka menolongnya?
Merasa dipermainkan musuh sendiri, Miku menggigit bibir bawahnya dengan marah. Seharusnya ia habisi Luka malam itu juga. Seharusnya… Dia juga mati. Mati bertiga. Tapi kenapa dia malah selamat? Dan, bagaimana dengan Kaito? Dia menusuknya. Cukup dalam. Ya, cukup dalam untuk membunuh rasa sakit hatinya.
Perlahan-lahan, air matanya turun kembali.
Apa yang harus kulakukan agar membuat diriku sendiri tersenyum?
Mata Miku tertuju pada sebuah cutter bekas diatas meja.
***
Len menghela nafas panjang saat mendapati sebuah kotak makanan berdiri dengan indah diatas meja kerjanya. Ini pasti ulah dia lagi.
“Cieee, Len. Udahlah terima aja tuh si Rin!” tiba-tiba seorang pria berambut ungu panjang dari sebelah mejanya berteriak disambut beberapa siulan dari rekan kerja lain. Len memandang pria itu dengan wajah malu. Ia hanya bisa menelan ludahnya.
“Gakupo. Hentikan itu. Bilang saja kalau kau iri padaku.” Kata Len sambil memutar matanya. Gakupo Kamui membetulkan letak jas putihnya dan terkekeh pelan. “Oh, ayolah Len. Aku ‘kan Cuma bercanda. Kau ini terlalu serius…” katanya. Len hanya mendengus lalu membuka kotak makanan tersebut. Pie apple, beberapa katsu bento dan cup minuman kopi mocchacino kesukaannya. Len menemukan sebuah surat kecil disana.
Makan yang banyak ya, Len-kun! I I love u. –RIN
Dan yeah. Kontan saja wajah Len memerah. Antara kesal, malu dan senang. Bukannya dia tidak senang kalau Rin perhatian begini. Dia senang kok. Cowok mana yang nggak senang diperhatikan oleh Rin Kagamine. Seorang mahasiswi jurusan farmasi yang cantik semasa Len kuliah dulu. Perawakan Rin yang tinggi, putih, berbulu mata lentik dan berpupil oranye itu sudah pasti menjadi incaran cowok di kampusnya. Tapi kenapa Len merasa gadis itu kurang cocok dengannya?
“Iri padamu? Oh ayolah, Len. Siapa sih yang nggak iri padamu? Rin-chan mengirimimu berbagai macam hadian dan makanan, tapi kenapa nggak pernah kau tanggapi? Kau ini bodoh atau tolol? Dan oh astaga! PIE APPLE!!” seru Gakupo mengagumi isi kotak makanan itu. Len terdiam lalu teringat sesuatu.
“Gakupo. Kalau kau mau makan pie apple-nya, ya makan saja. Aku ada urusan.” Kata Len sambil keluar dari ruang dokter tersebut. Gakupo menyeringai senang lalu berteriak dari dalam, “Kau memang sahabatku yang terbaik, Len!”
Len tidak memedulikannya. Mau Gakupo menghabiskan semuanya juga Len tidak peduli. Toh, sudah sering Gakupo melakukannya dan Len lebih suka makan diluar dibanding masakan Rin. Bukannya masakan Rin nggak enak, lho. Tapi, Len lebih suka memakan fish and chips kesukaannya dikantin Rumah Sakit.
Miku Hatsune belum dalam kondisi kejiwaan yang baik.
Akhirnya matanya tertuju pada sebuah ruangan dan membuka daun pintu tersebut. Matanya terbelalak mendapati pemandangan dihadapannya.
“JANGAN LAKUKAN, MIKU!!!!!”
***
Miku mengambil cutter itu dan membuka perban dilehernya. Bekas luka sayatan itu masih ada. Kalau Miku menyayatnya lagi, mungkin akan lebih cepat mati? Miku tersenyum mendengar dialog dalam hatinya. Air matanya menetes dan menempelkan kepala pisau itu pada bekas sayatan lukanya. Miku menekan pisau tersebut sebelum—
“JANGAN LAKUKAN, MIKU!!!!!” suara Len menggema ditelinganya. Miku yang terlalu kaget untuk merespon menjadi lengah saat Len berlari kearahnya dan meraih cutter itu dari tangan Miku.
“Kau sudah gila, hah?!” Len membentaknya tepat didepan wajah Miku. Miku terkaget-kaget ternyata dokter yang kalem ini bisa mengamuk juga. Len lantas melihat bekas sayatan dileher Miku dan melihat ada darah mengalir sedikit. Lantas, Len mengelapnya dengan tissue dan mengambil obat dari kantungnya untuk merapatkan luka kecil itu dan segera memperbannya lagi.
“Kenapa kau menyelamatkanku?” Tanya Miku sambil menangis. Len menatap gadis itu lalu menghapus air matanya.
“Bodoh kau. Aku doktermu. Kau kira aku akan diam saja melihat pasienku mencoba bunuh diri?! Kau mau aku dituntut hah?” Tanya Len sarkartis. Miku terdiam. Len menempelkan perban itu dengan perekat dan menatap pasiennya itu dengan ekspresi seolah-olah Miku sudah gila.
“Jangan lakukan itu lagi.” Kata Len. Rahangnya mengeras. Miku mendengus.
“Bodo amat. Kau siapa mengatur-ngaturku hah? Kau itu Cuma dokter sok baik yang nggak tahu apa-apa!” kata Miku sambil menatap Len dengan berani. Len balik menatapnya yang anehnya malah memandang Miku dengan ekspresi kosong.
“Aku tahu apa yang terjadi. Get it? Aku tahu. “ kata Len. Miku melotot kaget.
“Sok tahu!”
“Aku bahkan belum bercerita apa yang kutahu.” Kata Len sambil memutar kedua bola matanya. Lalu melanjutkan,
“Kedua temanmu itu selamat. Sekarang ada di Rumah Sakit Saitama,” Kata Len. Miku menatapnya dengan ekspresi sangat kaget. “Apa-a?”
“Ya. Mereka selamat. Dan cowok yang kau tusuk itu, siapa namanya?” Tanya Len. Miku menghela nafas dengan malas lalu menjawab dengan setengah hati, “Kaito,”
“Ya, dan Kaito itu dibawa oleh temanmu yang berambut merah muda itu kesana. Sengaja memisahkan kalian di Rumah Sakit yang berbeda. Habis, takutnya kau berusaha menjadi pembunuh lagi,” kata Len cuek tanpa memedulikan ekspresi kesal Miku karena disebut pembunuh.
“Kau menusuk si Kaito itu cukup dalam, lho. Bahkan mengenai tulang rusuknya.” Kata Len sambil mengangkat bahu. Miku terdiam. Sedalam itu-kah?
Apakah, Kaito merasakan apa yang ia rasakan?
***
Langit senja mulai memudarkan cahaya matahari. Berganti dengan hembusan angin semilir yang mengganggu rerumputan dan membuat suara berisik. Len lantas membereskan peralatannya sambil menyeka keringatnya. Fiuh, akhirnya shift-nya selesai juga. Len melintas lorong panjang itu dan berhenti didepan kamar Miku. Apakah ia akan mencoba membunuh dirinya lagi? Apakah Miku akan melakukannya lagi?
Len menghela nafas sambil bergumam, “Lihat saja kalau kau melakukannya lagi. Jangan membuat kesabaranku habis.” Dan masuk kedalam kamar itu. Didapatinya gadis itu tengah tertidur pulas akibar obat bius yang baru saja disuntikan
Len. Matanya yang berwarna hijau zamrud tertutup rapat. Bulu matanya yang lentik menghiasi wajah cantik yang tengah terbaring itu. Len menghela nafas panjang sambil melirik tubuh Miku. Selimut itu terkesikap sedikit.
“Dasar bodoh.” Kata Len sambil menaikan selimut itu sampai ke dagu Miku.
“Ngh.. Ka-Kaito…” tiba-tiba saja, bibir mungil itu mengigau. Len terdiam saat tangannya dicengkram erat-erat oleh pasiennya ini.
“Jangan… Ja-jangan tinggalkan… aku…” Miku mengigau sambil mencengkram erat lengan Len. Matanya yang tertutup itu mulai menitikan air mata. Len merasa hatinya berdesir. Pastilah gadis ini begitu tersiksa. Dielusnya tangan yang mencengkram lengannya itu dengan perasaan halus. Cinta itu memang buta, ya?
Saat cengkraman itu terlepas, Len menatap sekali lagi wajah Miku dan menyeka air matanya dan berjalan kearah pintu.
“Dasar bodoh.” Gumam Len sambil tersenyum saat terakhir kalinya dia menutup pintu itu. Membiarkan sosok yang rapuh itu tertidur. Biarlah. Pastinya perasaannya harus dikuatkan.
***
“Len! Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?” suara Rin Kagamine menghajar langsung ditelinga Len. Len menatap wanita itu dengan perasaan enggan.
“Maaf. Habisnya aku sibuk. Lagipula ada apa kau meneleponku? Ada hal yang penting? Tidak kan?” Tanya Len dengan wajah cuek-nya itu. Bibir Rin mengerucut seketika. Menyebalkan. Padahal, dia kan selalu mau tau sedang apa-kah Len? Bersama siapa? Apakah Len sudah makan? Well yeah, Rin menyukai—ehh—mencintai Len.
“Kau ini memang menyebalkan, Len.” Kata Rin sambil memainkan rambutnya dengan jari telunjuknya. Len hanya mengangkat bahu.
Saat ini, mereka tengah berada di Kafe Rumah Sakit. Rin yang bekerja sebagai model itu, selalu menyempatkan diri ke Rumah Sakit hanya untuk melihat keadaan Len. Sementara, Len-nya sendiri pasti tidak akan peduli mau Rin tidak melihat keadaannya. Malah, dia agak risih dengan perhatian berlebihan yang ditunjukan Rin.
“Jadi,” Rin membuka percakapan sambil menyesap Ice Coffee-nya. Len menatapnya tanpa ekspresi. Dia lelah. Itu saja.
“Ada pasien psikopat baru, ya?” Tanya Rin dengan niat bercanda. Len menggelengkan kepalanya dengan wajah serius. Seolah-olah tidak menganggap itu bercanda.
“Dia bukan psikopat.” Kata Len singkat sambil mengunyah roti bawang putih-nya. Rin mengangkat alisnya.
“Oh? Gakupo-kun bilang, pasien barumu itu baru saja membunuh kedua orang temannya gara-gara cinta? Hahaha. Dia pasti bodoh ya?” Tanya Rin –lagi-lagi dengan niat bercanda—Len menatap Rin.
“Jangan keterlaluan, Rin.” Kata Len tidak menghiraukan ekspresi sebal Rin.
“Ah? Maaf deh…” kata Rin. Dalam hati, Rin mulai bertanya-tanya siapa pasien ini? Sebelumnya, Len tidak pernah sewot atau menganggap serius kalau Rin mengata-ngatai pasien-pasiennya. Lalu kenapa sekarang Len sewot dan tidak suka kalau Rin hanya bercanda, sekali lagi. Hanya bercanda tentang pasiennya ini.
“Ada kesalahan dalam filsafah Gakupo. Pertama. Dia tidak membunuh. Well, mungkin niatnya memang membunuh, tapi kedua temannya itu selamat. Lalu, memang iya gara-gara cinta. Lalu apa? Kau harus belajar mengaca pada kaca yang benar, Rin.” Kata Len nyinyir. Rin terbelalak. Tidak pernah sebelumnya Len lebih membela pasiennya dibanding dia!
“Kenapa kau jadi sewot begitu?” Tanya Rin kesal. Len berdiri dan mengambil tasnya.
“Sudahlah, aku pulang dulu. Selamat malam.” Kata Len dan berjalan pergi meninggalkan Rin yang masih tercengang dengan kata-kata Len barusan.
Astaga, siapa sih pasien sialan itu?
Rin mengambil tas kecilnya dan mengobrak-abrik isinya mencari sesuatu. Ketemu. Handphone. Rin memencet beberapa nomer yang ia hafal dan menempelkannya pada telinganya. Terdengar nada sambung… Sekali… Dua kali…
“Halo?” suara berat dari seberang sana menyapa telinga Rin. Rin terbatuk sebentar sambil menjawab se-santai mungkin.
“Gakupo. Hai.” Kata Rin. Gakupo terdengar tertawa.
“Ya, ada apa, Rin?”
“Aku mau Tanya. Siapa pasien yang ditangani Len sekarang? Err—maksudku, yang pasien psikopat baru itu lho..” kata Rin setengah hati. Gakupo tampak terdiam sesaat. “Kenapa kau? Ada masalah sama Len gara-gara pasien itu?” Tanya Gakupo sambil terkekeh.
“Aduuh, aku lagi nggak mood bercanda! Sudah jawab saja, siapa namanya?” Tanya Rin kesal. Ada apa dengan cowok-cowok hari ini? Mereka menyebalkan sekali!
“Oke oke, jangan marah-marah begitu. Namanya Miku Hatsune. Mahasiswi di Voca-College.” Terang Gakupo. Rin terdiam.
“Oh…” .
***
Len memasuki ruangan kerjanya. Gakupo dan beberapa orang lainnya sudah disana. Masih ada yang menguap-nguap karena kebagian shift dua kali dalam sehari, ada juga yang sudah sibuk didepan computer sambil menggigit beberapa chips. Yap. Len kebagian shift malam hari ini.
“Yo, Len!” sapa Gakupo. Len menatap temannya itu. “Yo.” Sambil mencari dimana stetoskopnya dan memakai baju dokternya serta mengaitkan namanya sendiri didada kirinya.
“Kau dan Rin berantem ya?” Tanya Gakupo. Len tidak meresponnya dengan serius. “Kita kan nggak pacaran.” Kata Len. “Jadi bodo amat.” Sambungnya sambil keluar dari ruang kerja itu meninggalkan Gakupo yang terbengong-bengong. Gila. Rin yang secantik itu belum bisa menaklukan Len selama 3 tahun!?
Len sesungguhnya tidak pernah berniat berkata-kata tajam seperti kemarin pada Rin. Tapi, entahlah… Len hanya tidak menyukainya saat Rin meledek dan menghina Miku seperti itu. Len merasa, Rin keterlaluan. Miku itu… Rapuh. Tidak seharusnya dia menghina Miku.
Lantas, tangan Len membuka daun pintu itu dan masuk kedalamnya. Gadis berambut hijau panjang itu sedang membaca sebuah buku. Len tersenyum memandang ekspresi serius dalam wajah cantik itu. Lantas len menutup pintu dibelakangnya dan berjalan maju kearah Miku yang masih asyik membaca buku.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Len. Miku mendongak kearah Len. Senyumannya melebar. Deg. Len merasa wajahnya memanas melihat senyuman itu. Jantungnya juga berdegup-degup.
“Aku baik sekali. Ditambah aku menemukan buku menarik ini dibawah laci. Mungkin salah satu pasienmu sebelum aku, lupa membawanya pulang.” Kata Miku panjang lebar. Suaranya terdengar ceria dan wajahnya memancar penuh cahaya. Len terdiam menatapnya. “Dokter?” panggil Miku saat menyadari dia tidak mendapat respons.
“A-ah iya. Baguslah kalau kau baik-baik saja. Biar aku memeriksamu dulu.” Kata Len sambil mengambil sebuah stetoskop dari balik baju dokternya. Miku mengangguk lalu membaringkan dirinya sendiri diatas tempat tidur. Len menelan ludahnya dan berkata dengan malu-malu.
“Errr—bisa buka… bajumu sedikit?” Tanya Len pelan-pelan. Wajah Miku memerah lalu menatap dokter itu dan
melemparnya dengan bantal.
“Baka!! Dasar dokter mesum!” teriak Miku sambil melempar bantal itu. Len menangkap bantal itu dengan sigap.
“Mana mungkin aku bisa memeriksamu dengan rinci kalau kau tidak mau membukanya! Aku juga… Ugh! Pokoknya turuti saja! Dan apa maksudmu dengan ‘dokter mesum’?!” kata Len. Wajahnya memerah seperti warna bantal yang ia tangkap. Miku menjulurkan lidahnya.
“Nggak mau! Dasar dokter mesum! Kau mau kuhajar hah?” Tanya Miku. Len baru menyadari, betapa tsundere-nya pasien ini. Len menghela nafas,
“Baik. Pilih cuci darah atau kau turuti aku?” Tanya Len tajam. Miku menelan ludahnya. Ia selalu merasa ngeri kalau melihat darahnya diatas pipa-pipa itu. Bagaimana kalau pipa-pipa itu tiba-tiba saja jatuh? Ih…
“O-oke!” kata Miku sambil membuka sedikit bajunya. Len menghela nafas lalu menggeleng. Tidak menyangka mengurus dan menaklukan anak berumur 18 tahun ternyata lebih sulit daripada menaklukan anak berumur 5 tahun.
Len menempelkan stetoskop itu diatas perut itu. Miku meringis pelan karena dinginnya stetoskop itu. Wajah Len sama sekali tidak terlihat mesum saat memeriksa. Membuat miku malu sendiri karena sudah terlalu percaya diri bahwa Len akan berbuat yang tidak-tidak.
Miku memerhatikan Len. Rambutnya yang pirang panjang sebahu yang diikat kebelakang serta poni berantakan yang membuatnya semakin keren dan mempesona. Matanya yang membius setiap gadis yang ditatapnya. Hidungnya yang mancung… Dan bibirnya yang terlihat lembut.
Wajah Miku lagi-lagi memanas dan mencoba menutupi dengan memasang wajah sok tenang membuat Len menatapnya. Wajahnya yang jahil menyeringai.
“Kau tadi memerhatikanku yaa?” Tanya Len dengan nada menggoda. Miku yang merasa tertangkap basah hanya bisa membuat wajahnya bertambah merah yang menurut Len wajah itu sangat manis.
“Si-siapa? Percaya diri sekali kau, dokter mesum bernama Len!” kata Miku kesal dan mati-matian menyembunyikan perasaannya. Len mendecakan lidahnya lalu dengan iseng mendekatkan wajahnya kewajah manis-blushing milik Miku itu. Miku memundurkan kepalanya kebelakang dan terpentok hingga tembok itu.
“Ma-mau apa kau? A-aku bisa berteriak sekarang juga!” kata Miku mengancam. Padahal, wajahnya benar-benar sudah memerah bagai kepiting rebus. Len menghiraukannya.
“Hahaha, kalau kau teriak, orang-orang akan menyangka kau sedang ketakutan aku periksa.” Kata Len dengan devil smirk-nya. Miku merapatkan rahangnya. “Len!”
Tapi Len tidak berhenti. Seperti ada setan yang merasukinya. Keduanya sudah sangat dekat sebelum—
“Len! Lihat aku bawakan don—astaga.” Suara itu berasal dari pintu. Kontan, Len menjauhkan wajahnya dari pasiennya itu dan melihat kebelakang.
“Rin?” Len tercengang. Miku melotot. Wajahnya benar-benar merah. Rin melihat Miku yang blushing itu. Bajunya sedikit terbuka. Rin menundukkan kepalanya dengan kesal dan meninggalkan ruangan itu. Len segera panik ditempat.
“Astaga! Aduh, dia pasti salah sangka. Bentar yah, Miku. Nanti kita lanjutkan! Rin! Tunggu!!!” Len berlari keluar dari kamar itu. Miku menatapnya sebal. Dilanjutkan katanya? Siapa yang mau? (author : SAYA! SAYA MAU BANGET DICIUM LEN!! –PLAK).
Miku tiba-tiba terdiam. Jangan-jangan tadi itu pacarnya?!
Merasa tidak enak hati, maka Miku mengejar mereka berdua.
***
“Rin, tunggu!” Len berlari kearah wanita yang kebakaran emosi itu. Rin berhenti tanpa menatap Len.
“Kau salah paham. Itu tidak seperti yang kaulihat!” kata Len sambil mengatur nafasnya karena larinya itu. Rin menatapnya dengan ekspresi sedih.
“Kau…” belum sempat Rin menyelesaikan kalimatnya, Miku datang dengan nafas tersengal-sengal.
“I-iya, tadi memang tidak ada apa-apa. Dokter mes—maksudku, Len memang sedang memeriksaku saja!” kata Miku pada Rin. Rin menatap gadis itu tanpa ekspresi.
“Miku kenapa kau kemari? Nanti lukamu tambah parah!” kata Len pada Miku. Rin menatap Len dalam diam lalu menatap Miku kembali. Saat ini, mereka ada dibelakang Rumah Sakit. Hanya bertiga. Rin menatap wajah Len yang sangat khawatir dan perhatian pada Miku. Tiba-tiba mata Rin menyipit saat menatap Miku. Ada perasaan sangat benci pada gadis itu.
“Aku tidak apa-apa Len—“
“Kau.” Tiba-tiba Rin menunjuk Miku. Miku terdiam menatap Rin. Rin melangkah maju. Len hanya bisa tercengang atas apa yang akan dilakukan Rin kali ini.
“Harus. Mati.” Kata Rin sambil mengeluarkan sesuatu yang berkilat-kilat dari tasnya. Sebuah pisau lipat. Miku menelan ludahnya. Len melotot. “Rin, jangan!” teriak Len. Tapi terlambat, Rin mengacungkan pisau lipat itu dengan wajah menyeringai dan menusukkannya berkali-kali pada perut Miku. Miku terbelalak. Tiba-tiba saja semuanya terasa buram dimatanya. Air mata itu mengalir lagi merasakan sakit yang amat sangat diperutnya dan ambruk dihadapan Rin.
“KAU GILA!!!!” teriak Len pada Rin. Hatinya tersayat sembilu. Rin menatap Len. Air matanya tumpah.
“Kenapa… kau mencintai dia dan tidak pernah mencintaiku, Len? Aku melakukan ini demi KAU!” kata Rin sambil menangis. Ditatapnya mayat Miku yang berlumuran darah. Rin menatapnya penuh kebencian. “Gara-gara dia kan? Aku tidak mau dia menghalangi perasaanmu untukku…” kata Rin. Len terdiam lalu meraih Rin kedalam pelukannya. Ditatapnya mayat Miku. Len menutup matanya.
Maafkan aku, Miku.
***
EPILOG
Mata merah muda itu menatap kearah pohon keemasan yang siap menggugurkan daun-daunnya. Ekspresinya melembut saat angin berhembus pada rambut panjang merah mudanya dan daun-daun itu menjatuhkan diri keatas tanah bergundukan itu. Tangannya tengah memegangi gagang sebuah kursi roda yang diduduki seorang pria berambut biru gelap.
Keduanya sama-sama menatap kearah tanah gundukan itu. Terdapat batu nisan bertuliskan nama dan foto mereka bertiga.
“Kita tidak akan melupakannya bukan, Kaito?” Tanya gadis berambut merah muda itu. Pemuda berambut biru gelap itu mengangguk.
“Tentu saja. Karena dia adalah sahabat kita selamanya.”
In this ever repeating colorless world,
I think very dearly of you.
Aware that farewell will come at some point,
I wander on aimlessly.
*OWARI*
Sumber http://akb-kita.blogspot.com/
Comments
Post a Comment